Bangkitnya Perlawanan
Abad ke-19 bisa dikatakan sebagai awal perjuangan persamaan hak-hak
wanita terhadap laki-laki, terutama di Eropa. Mary Wollstonecraft dianggap
sebagai pelopor kelahiran ide tentang hak-hak wanita. Terutama ketika ia
menerbitkan bukunya. A Vindication of the Rights of Woman di Inggris
tahun 1792, yang mengatakan bahwa wanita diciptakan hanya untuk
menyenangkan laki-laki. Ia menawarkan kesempatan yang sama bagi
wanita terhadap laki-laki dalam hal pendidikan, kerja, dan
politik.
Di Amerika, tonggak perjuangan emansipasi
dipancangkan tgl 19-20 Juli 1948. Saat itu,
diadakan sebuah konvensi oleh Lucretia
Mott dan Elizabeth Cady Stanton. Konvensi
ini membahas tentang hak sosial, sipil, dan
agama kaum perempuan.Konvensi ini
kemudian menghasilkan satu deklarasi
yang dikenal sebagai “The Declaraton of
Sentiment”.
Konvensi ini berlanjut dengan membentuk
National Woman Suffrage association
(NWSA) yang mengajukan amandemen pada
konstitusi untuk hak suara bagi kaum perempuan. Aktivis gerakan wanita di
Inggris juga memperjuangkan hak suara dalam politik. Bahkan, hak itu yang
menjadi prioritas perjuangan mereka.
Pada masa sekarang, dari dunia Islam, terkenal nama-nama aktivis feminis,
seperti Fatima Mernissi di Maroko, Riffa’at Hassan di Pakistan, Amina
Wadud Muhsin di Malaysia, Qasim Amin di Mesir, Malik Hifni Nassef, May
Ziadah, ‘Aisyah ‘Abd al Rahman bint al Syathi’, Huda Sya’wi, Dori Syariq.
Yang akhir0akhir ini populer di Indonesia dengan buku-bukunya adalah
feminis Marxis yang sarkatis dan provokatif, yaitu Nawal Al-Saadawi dari
Mesir.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar