Emansipasi negeri sendiri sering dikaitkan dengan R.A.Kartini (1879-
1904). Wanita yang dipaksa menjadi ibu kita semua ini terkenal dengan
kumpulan surat-suratnya yang berjudul asli, Door Duisternis tot Licht. Oleh
Armijn Pane -sastrawan Nasrani- judul itu diterjemahkan menjadi Habis
Gelap Terbitlah Terang.
Ternyata setelah diusut, kalimat tersebut terilhami potongan ayat Al-Quran,
yaitu minadz dzulumati ilan nuur. Memang R.A Kartini memperjuangkan
hak pendidikan bagi kaum wanita yang dulu dimonopoli laki-laki. Tapi,
dalam beberapa korespondensi dengan teman-teman Belandanya, R.A
Kartini tidak setuju dengan Barat. Bahkan ditengarai dari surat-suratnya,
beliau juga mempunyai ketertarikan terhadap konsep Islam. “Dan saya
menjawab, Tiada Tuhan Selain ALLAH. Kami mengatakan bahwa kami
beriman kepada ALLAH, dan kami ingin mengabdi kepada-NYA, dan bukan
kepada manusia. Jika sebaliknya, tentulah kami sudah memuja orang,
bukan ALLAH.” (surat kepada Nyonya Abendanon, 12 Oktober 1902).
“Ingin benar saya menggunakan gelar tertinggi, yaitu hamba ALLAH.”
(surat kepada Nyonya Abendanon, 1 Agustus 1903).
Beberapa tahun setelah R.A Kartini meninggal, muncullah organisasi
perempuan pertama, yakni Poetri Mardika (1912), organisasi ini
merancang Gerakan Emansipasi Nasional. Pada 22 Desember 1928,
diadakan kongres perempuan Indonesia pertama yang diprakarsai oleh
Maria Ulfah Santoso, Mrs. Soewarni Pringgodigdo dan Mrs.
Mangoensarkoro. Tiga puluh organisasi perempuan yang hadir sepakat
menolak ta’lik, pernikahan melalui penghulu, menyusun draft tentang
kesetaraan gender dan gerakan permbersihan poligami. Selanjutnya
organisasi paling progresif dan nasionalis, Isteri Sedar, yg diketuai Maria
Ulfah Santoso, bertekad menghapus poligami.
Pada Juni 1938, Isteri Indonesia memutuskan untuk memperjuangkan
perempuan sebagai anggota dewan di setiap kota,namun usaha tersebut
kandas. Aksi protes berlanjut hingga 1941 di mana anggota dewan
menerima pernyataan M.Yamin untuk membolehkan perempuan
mempunyai hak untuk memilih.
Sekarang? Lebih parah lagi. Feminis mendapat angin segar setelah era
reformasi dan masa Presiden Gus Dur. Yang diserukan lebih komplit,
termasuk hak-hak untuk tidak punya anak, hak untuk menjadi lesbian,
serta tuntutan disahkannya pernikahan lesbian. Mereka juga didukung
tokoh-tokoh Islam Liberal seperti Masdar Farid Mas’udi, Zaitunnah,
Nazaruddin Umar, KH. Hussein Muhammad, dan syafiq Hasyim.
Mendulang Hasil
Amerika merupakan salah satu negara tempat lahirnya gerakan
pembebasan wanita. Dari mereka lah ide membebaskan wanita dai sektor
domestik ke sektor yang ditangani pria. Lalu bagaimana hasil feminisme
di Amerika?
Sekarang ini, walaupun jumlah wanita yang bekerja di luar rumah
semakin banyak, namun kondisi ekonomi mereka tidak banyak berubah.
Dua dari tiga orang dewasa yang miskin di Amerika adalah wanita. Data
tahun 1985 menunjukkan tingkat upah rata-rata wanita di AS adalah 64%
tingkat upah pria, kondisi ini serupa dengan tahun 1939. Sia-sia. Yang
lebih menyedihkan lagi adalah bahwa emansipasi yang mereka
perjuangkan justru memunculkan masalah baru bagi wanita.
Salah satu yang nampak di AS adalah tingginya angka perceraian, yang
meningkat tajam sejak tahun 1960-an. Tahun 1980 jumlah anak yang
dibesarkan oleh kepala keluarga wanita telah mencapai 50%. Penyebab
utama perceraian adalah stress yang dialami para wanita
eksekutif.Sementara itu kriminalitas juga meningkat, Rata-rata, setiap 6
menit seorang wanita diperkosa, kenyataan ini tidak bisa dipisahkan dari
propaganda feminis yang menuntut kebebasan utuh dengan pria yang
membawa kecenderungan pergaulan bebas dan keengganan menikah.
Apa yang mau dicari feminis sekarang? Barat telah merasakan akibat
emansipasi. Maukah kita mengikuti jejak mereka? Sebenarnya, ALLAH
telah memuliakan wanita di dalam Islam dengan ,menempatkannya
sebagai ratu di rumah tangga. Dengan ketetapan ALLAH ini, wanita telah
merasakan kebebasannya yang hakiki, tanpa perlu emansipasi.
(kutipan dari berbagai sumber)(Majalah Informasi For All Moslem. MAINFRAME)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar